Sabtu, 17 Desember 2011

BUMI TERANCAM KRISIS AIR

By: Ayu Riesky


Belakangan ini sedang gencar-gncarnya dilakukan usaha anti global warming. Sebagian dari kita mungkin berpikir, global warming dapat di atasi dengan melakukan penghijauan dan hemat listrik saja. Padahal masih banyak yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan bumi kita tercinta ini. Salah satunya adalah usaha pencegahan krisis air.
Sadarkah kita jika belakangan ini persediaan air bersih  mulai berkurang? Maraknya kegiatan industri mengakibatkan cadangan air dalam tanah menipis. Selain itu, borosnya pemakaian air dan rendahnya partisipasi masyarakat mengenai krisis air bersih  menjadi penyebab utama krisis air bersih.
Ftor  yang mempengaruhi menurunnya debit air adalah faktor alami yaitu faktor yang bersumber pada alam, antara lain global warming, bencana alam, dan  pertambahan jumlah penduduk di Bali. Makin  padatnya jumlah penduduk mengakibatkan meningkatnya kebutuhan air bersih, hal ini membuat susahnya mendapat air bersih untuk dikonsumsi. Adapun faktor non alami yang menyebabkan penurunan debit air:
* Limbah pemukiman.
        Limbah pemukiman  yang mengandung limbah domestic berupa sampah organic dan sampah anorganik serta detergen. Detergen merupakan limbah pemukiman yang paling potensial mencemari air.. pada saat ini hamper setiap rumah tangga menggunakan detergen, padahal limbah detergen sangat sukar di uraikan oleh bakteri.
* Limbah industri.
         Limbah industri sangat potensial sebagai penyebab terjadinya pencemaran air. Pada umumnya limbah industri mengandung limbah B3, yaitu bahan berbahaya dan beracun yang dapat mencemarkan lingkungan sehingga membahayakankesehatan dan kelangsungan hidup makhluk hidup. Logam yang paling berbahaya dari limbah industri adalah merkuri atau yang dikenal sebagai air raksa.
* Limbah pertanian.
       Pupuk dan pestisida biasa digunakan para petani untuk merawat tanaman. Namun pemakaian pupuk dan pestisida yang berlebihan dapat mencemari air. Limbah pupuk mengandung fosfat yang dapat merangsang pertumbuhan gulma air seperti ganggang dan eceng gondok menjadi tidak terkendali. Limbah pestisida mempunyai aktifitas dalam jangka waktu yang lama dan ketika terbawa aliran air keluar dari daerah pertanian, dapat mematikan hewan yang bukan sasaran seperti ikan, udang dan hewan air lainnya.

Menurunnya ketersediaan air memberikan dampak negatif dalam kehidupan kita, antara lain yaitu harga air semakin mahal, terbatasnya air bersih, dan yang paling penting adalah  semakin besarnya potensi masyarakat terserang penyakit yang akan mengakibatkan menurunnya derajat kesehatan masyarakat.
Jika hal ini di biarkan terus menerus maka tidak menutup kemungkinan terjadi krisis air secara global. Maka dari itu diperlukan beberapa usaha yang dapat dilakukan guna mencegah atau paling tidak mengurangi krisis air. Cara yang dapat kami sarankan adalah:
* Mengurangi sampah di sumbernya
* Mengurangi beban di TPA
* Mengurangi biaya pengolahan
* Memperbaiki kondisi lingkungan
* Mengolah limbah dengan tepat

Jangan Cuma diam, ayo kita selamatkan bumi dari ancaman krisis air!



By:




                                                                                                                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar