Jumat, 28 Oktober 2011

Elizabeth Gilbert, Melihat Dunia Melalui Hati

Oleh: Ayu Riesky









Elizabeth Gilbert atau biasa di sapa Liz adalah seorang wanita yang sempurna. Ia memiliki semua yang diinginkan oleh seorang wanita Amerika modern. Mulai dari karir cemerlang, suami yang baik serta rumah yang bagus. Sempurna. Namun ternyata tidak selamanya kesempurnaan itu membuatnya nyaman.
Suatu ketika, ia menjadi panik, gelisah dan bimbang. Ia memilih untuk bercerai dengan Stephen suaminya. Namun tak segampang membalikkan telapak tangan. Suaminya tetap pada pendirian dan tidak mau melepas Liz. Liz benar-benar terpuruk saat itu, bahkan ia terpuruk dilantai kamar mandi, berbicara pada Tuhan untuk yang pertama kalinya. Namun, sekalipun terpuruk, ia memilih untuk tetap bekerja. Suatu tawaran menarik dari kantornya, yaitu berkunjung ke Bali untuk meliput suatu berita.
Di Bali, ia bertemu dengan dukun dari generasi ke sembilan dukun Bali yang bernama I Ketut Liyer. Disana Liz diramalkan bahwa ia akan datang kembali ke Bali dan tinggal di Bali dalam waktu yang tidak singkat. Setelah Liz berhasil meliput berita, ia kembali ke New York dan kembali ke semua permasalahannya.
Liz mencoba menjalin hubungan dengan seorang aktor bernama David. Namun gagal. Hubungannya benar- benar sulit dipahami, Liz takut untuk kembali merajut hubugan dengan seorang pria dan tidak mau terikat dalam perkawinan lagi. Lama tidak ada kabar dari pengacaranya mengenai keputusan suami Liz. Sampai akhirnya sang pengacara mendapat kabar bahwa Stephen mau bercerai dengan Liz. Semuanya telah berhasil di selesaikan dan kini Liz menjadi wanita bebas, namun tidak mebuat Liz terlepas dari masalah. Ia merasakan perceraian, depresi, kegagalan cinta dan kehilangan pegangan akan arah hidupnya.
Untuk memulihkan ini semua, Elizabeth Gilbert mengambil langkah yang radikal. Dalam pencarian akan jati dirinya, ia menjual semua miliknya, meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan orang-orang yang dikasihinya dan memulai satu tahun perjalanan keliling dunia seorang diri. Italia, India dan Indonesia merupakan tempat yang dipilihnya untuk memulai petualangan dan menjawab ketidaknyamanannya selama ini.
Makan di Italia, dapat dikatakan juga ia belajar seni menikmati hidup, belajar bahasa Italia dan merajut kebahagiaan dengan menambah berat badannya sebanyak dua puluh tiga pound. Meliki keluarga baru yang menyenangkan. Disini Liz benar-benar belajar malihat indahnya dunia.
Berdoa di India merupakan sarana untuk belajar seni berdevosi, dengan bantuan seorang guru spiritual setempat dan seorang Texas yang bijaksana, ia memulai empat bulan penuh disiplin dalam eksplorasi spirituil. Belajar untuk taat pada Tuhan hingga menyerahkan seluruh hidupnya pada Tuhan.
Akhirnya, Indonesia, di sini ia akhirnya menemukan tujuan hidupnya: keseimbangan – yaitu bagaimana membangun hidup yang seimbang antara kegembiraan duniawi dan kebahagiaan surgawi. Mencari jawaban atas pertanyaan tersebut di pulau Bali, ia menjadi murid dari seorang dukun tua dari generasi ke sembilan, menikmati keindahan alam dan budaya Bali, menolong sebuah keluarga kecil untuk membangun rumah dan ia juga jatuh cinta dengan cara yang sangat indah tanpa direncanakan. Seorang pria berkebangsaan Brazil, Felipe mampu mengubah ketakutan Liz menjadi suatu jalinan kasih yang indah.
Sebuah novel yang diceritakan secara bijaksana, melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang dan memandang perlunya suatu perubahan. Serta mampu memperluas wawasan mengenai budaya di beberapa negara(Italia, India, Indonesia). Mulai dari kultur masyarakat, upacara-upacara tradisional, hingga sejarah di suatu tempat dalam negara tersebut. Bahkan kita dapat sedikit belajar bahasa Italia dengan membaca novel ini, karena beberapa kata disuguhkan dengan bahasa Italia disertai dengan artinya dan bahkan filosofi dari keindahan bahasa Italia. Namun, dengan segala keindahan dan kelebihannnya, novel ini membuat para pembacanya mendapat sedikit kesulitan karena adanya ungkapan dan khiasan dalam kalimat membuat cerita ini sedikit terasa sulit.
Misalnya pada bab tiga : “Disimpan untuk belakangan diperdebatkan mengenai apakah Tuhan itu benar-benar ada (tidak-ini ide yang lebih baik: hilangkan sama sekali berdebtan tersebut), pertama-tama saya akan menjelaskanmengapa saya menggunakan kata Tuhan, meskipun sangat mudah bagi saya untuk menggunakan kata-kata Jehovah, Allah, Shiva, Brahma, Vishnu atau Zeus.”(hal 14)
Walaupun begitu, cerita ini tetap memikat dan penuh dengan muatan pesan yang dapat direnungkan dan diterjemahkan dengan lebih dalam.
Sebuah riwayat hidup.  Berbagi pengalaman yang mampu menjadi pedoman kita  dalam mencapai kebahagiaan hidup, yaitu mencapai keseimbangan antara keindahan duniawi dan spiritual.

“Empat kaki menapak bumi, kepala dipenuhi dengan daun, melihat dunia melalui hati.”



Twitter :http://twitter.com/#!/YukieRisakaChan
Facebookhttp://www.facebook.com/#!/profile.php?id=100000097786935




By: